"Kemungkinan" adalah judul puisi ini.
Tetapi "Yang Tidak Pernah Sungguh-sungguh Ada" adalah pilihanku sendiri.
Ketika hati berdengung kala sebuah puisi bersenandung, apakah itu di balik selubung?
Ketika nafas memburu kala sebuah kalimat menderu, apakah itu di bayang seteru?
Sudahkah sewindu usai cabikan pilu?
Tuntaskah buraian linang airmata saat itu?
Pudarkah gesekan lekuk tubuh di relung birahiku?
Yang Tidak Pernah Sungguh-sungguh Ada
Menolak menjadi ada
Menampik menjadi tiada
Dari mana tolakan dan tampikan itu
Jika bukan dari yang memulai tapi belum sempat mengakhiri
Tidak pernah sungguh-sungguh ada...
Tidak pernah
Tidak pernah sungguh sungguh
Tidak pernah sungguh sungguh ada
Tidak pernah
==================================
http://membayangkan_widhy.blogs.friendster.com/my_blog/2006/08/kemungkinan.html (Dikutip dari Blog-nya Widhy... Kopi Pahit Kental: All about narcism)
KEMUNGKINAN
Tertinggal acak disisa makan siang
Gigitan kemarin kau hapus dengan tissue
Di bibirku terbaca pernyataanmu
Kita selesai sampai disini
Sementara di kaca restoran
Dua lelaki menangis berciuman
Kemudian berpisah, bertukar senyum
Ini yang akan kita lakukan
Mewarnai langit hati
Dunia yang bukan hitam-putih
Kita bahkan belum sempat memulai
Dan pengamen mulai menyanyikan lagu
Seperti mendongengi kita
Syair-syair mereka terdengar meracau
Matamu kering airmata
Menyatu dalam gelas yang dikosongkan
Malam kemarin lupakanlah
Penyatuan itu latihan kemungkinan
Di meja sebelah
Lelaki perempuan menyisir coklat
Banana split memisahkan mereka
Aku mencari penutup di matamu
Tak ada apa-apa, tak ada siapa-siapa
Ingatanku mengoleksi kontur tubuhmu
Menyasar sampai tak jumpa
Pelayan yang menghampiri
Menambahkan susu pada kopi
Senyumnya mengatakan sore ini begitu bergula
Jika aku tak bisa bercerita di sisi tubuhmu saat subuh yang gaduh
Aku akan bercerita di sisi makammu saat magrib yang menggayut
(Waktu berhenti seperti di dalam foto
Kau ternyata tak pernah sungguh-sungguh ada)
August 09, 2006